Thursday, February 28, 2013

Janganlah bersikap keras hati

Penulis: Syafrijal, S.Th.I
Editing : Nofriyaldi
Publik. : wong_bay
Berdebatlah dan berdebatlah dengan baik yaitu dengan mengesampingkan ego dan emosi,karena syetanlah yang menguasi ego dan emosi manusia, maka tiap perbuatan dan tutur kata orang yang egois dan emosional adalah termasuk perbuatan syaitan.
Islam memandang musyawarah
sebagai salah satu hal yang amat penting
bagi kehidupan insani, bukan saja dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
melainkan dalam kehidupan berumah
tangga dan lain-lainnya. Ini terbukti dari
perhatian al-Qur’an dan Hadis yang
memerintahkan atau menganjurkan umat
pemeluknya supaya bermusyawarah
dalam memecah berbagai persoalan yang
mereka hadapi.
Musyawarah itu di pandang
penting, antara lain karena musyawarah
merupakan salah satu alat yang mampu
mempersekutukan sekelompok orang
atau umat di samping sebagai salah satu
sarana untuk menghimpun atau mencari
pendapat yang lebih dan baik. Adapun
bagaimana sistem permusyawaratan itu
harus dilakukan, baik Al-Qur’an maupun
Hadis tidak memberikan penjelasan
secara tegas. Oleh karena itu soal sistem
permusyawaratan diserahkan
sepenuhnya kepada umat sesuai dengan
cara yang mereka anggap baik.
Para ulama berbeda pendapat
mengenai obyek yang menjadi kajian dari
permusyawaratan itu sendiri, adakah
permusyawaratan itu hanya dalam soal-
soal keduniawian dan tidak tentang
masalah-masalah keagamaan? Sebagian
dari mereka berpendapat bahwa
musyawarah yang dianjurkan atau
diperintahkan dalam islam itu khusus
dalam masalah-masalah keduaniawian
dan tidak untuk soal-soal keagamaan.
Sementara sebagian yang lain
berpendirian bahwa disamping masalah-
masalah keduniawian, musyawarah juga
dapat dilakukan dalam soal-soal
keagamaan sejauh yang tidak jelaskan
oleh wahyu (Al-Qur’an dan Hadis)
Terlepas dari perbedaan pendapat
di atas, yang jelas antara persoalan-
persoalan duniawi dan agamawi tak
dapat dipisahkan meskipun antara yang
satu dengan yang lain memang dapat di
bedakan. Dan suatu hal yang telah di
sepakati bersama oleh para ulama ialah
bahwa musyawarah tidak di benarkan
untuk membahas masalah-masalah yang
ketentuannya secara tegas dan jelas telah
ditentukan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.
[1]
A. Pengertian Musyawarah
Kata ) ﺷﻮﺭﻯ ( Syûrâ terambil
dari kata ( ﺷﺎﻭﺭﺓ- ﻣﺸﺎﻭﺭﺓ- ﺇﺳﺘﺸﺎﻭﺭﺓ )
menjadi ) ﺷﻮﺭﻯ ( Syûrâ. Kata Syûrâ
bermakna mengambi dan mengeluarkan
pendapat yang terbaik dengan
menghadapkan satu pendapat dengan
pendapat yang lain.[2] Dalam Lisanul
‘Arab berarti memetik dari serbuknya dan
wadahnya.[3] Kata ini terambil dari
kalimat ( ﺷﺮﺕ ﺍﻟﻌﺴﻞ ) saya
mengeluarkan madu dari wadahnya .
Berarti mempersamakan pendapat yang
terbaik dengan madu, dan
bermusyawarah adalah upaya meraih
madu itu dimanapun ia ditemukan, atau
dengan kata lain, pendapat siapapun
yang dinilai benar tanpa
mempertimbangkan siapa yang
menyampaikannya. Musyawarah dapat
berarti mengatakan atau mengajukan
sesuatu. Kata musyawarah pada
dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal
yang baik, sejalan dengan makna
dasarnya. Sedangkan menurut istilah fiqh
adalah meminta pendapat orang lain atau
umat mengenai suatu urusan. Kata
musyawarah juga umum diartikan
dengan perundingan atau tukar pikiran.
Perundingan itu jua disebut musyawarah,
karena masing-masing orang yang
berunding dimintai atau diharapkan
mengeluarkan atau mengemukakan
pendapatnya tentang suatu masalah yang
di bicarakan dalam perundingan itu.
Musyawarah merupakan salah
satu hal yang amat penting bagi
kehidupan insani, bukan saja dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara
melainkan dalam kehidupan berumah
tangga dan lain-lainnya. Islam
memandang penting peranan
musyawarah bagi kehidupan umat
manusia, antara lain dapat dilihat dari
perhatian al-Qur’an dan Hadis yang
memerintahkan atau menganjurkan umat
pemeluknya supaya bermusyawarah
dalam memecah berbagai persoalan yang
mereka hadapi.
B . Ayat-ayat Tentang Musyawarah
1. Surat Al-Baqarah ayat 233:
ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَﺍ ﻓِﺼَﺎﻻ ﻋَﻦْ ﺗَﺮَﺍﺽٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ
ﻭَﺗَﺸَﺎﻭُﺭٍ ﻓَﻼ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ :
٢٣٣ (
Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin
menyapih anak mereka (sebelum dua
tahun) atas dasar kerelaan dan
permusyawarahan antara mereka. Maka
tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-
Baqarah: 233)
Ayat ini membicarakan bagaimana
seharusnya hubungan suami istri saat
mengambil keputusan yang berkaitan
dengan rumah tangga dan anak-anak,
seperti menceraikan anak dari menyusu
ibunya. Didalam menceraikan anak dari
menyusu ibunya kedua orang tua harus
mengadakan musyawarah, menceraikan
itu tidak boleh dilakukan tanpa ada
musyawarah, seandainya salah dari
keduanya tidak menyetujui, maka orang
tua itu akan berdosa karena ini
menyangkut dengan kemaslahan anak
tersebut. [4] Jadi pada ayat di atas, al-
Qur’an memberi petunjuk agar setiap
persoalan rumah tangga termasuk
persoalan rumah tangga lainnya
dimusyawarahkan antara suami istri.
2. Surat Ali ‘Imran ayat 159:
ﻓَﺒِﻤَﺎ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻨْﺖَ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖَ
ﻓَﻈًّﺎ ﻏَﻠِﻴﻆَ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻻﻧْﻔَﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺣَﻮْﻟِﻚَ
ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺎﻭِﺭْﻫُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻷﻣْﺮِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺰَﻣْﺖَ ﻓَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻛِّﻠِﻴﻦَ ) ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ:
١٥٩ (
Artinya: “ Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau
bersikap lemah lembut terhadap mereka.
Seandainya engkau bersikap kasar dan
berhati keras. Niscaya mereka akan
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena
itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan tertentu. Kemudian apabila
engkau telah membulatkan tekad,
bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang bertawakkal kepada-Nya ”.
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Dalam ayat ini disebutkan sebagai
fa’fu anhum (maafkan mereka). Maaf
secara harfiah, bearti “menghapus”.
Memaafkan adalah menghapuskan bekas
luka dihati akibat perilaku pihak lain yang
tidak wajar. Ini perlu, karena tiada
musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan
kecerahan pikiran hanya hadir bersamaan
dengan sinarnya kekeruhan hati.
Disisi lain, orang yang
bermusyawarah harus menyiapkan
mental untuk selalu memberi maaf.
Karena mungkin saja ketika
bermusyawarah terjadi perbedaan
pendapat, atau keluar kalimat-kalimat
yang menyinggung perasaan orang lain.
Dan bila hal-hal itu masuk kedalam hati,
akan mengeruh pikiran, bahkan boleh jadi
akan mengubah musyawarah menjadi
pertengkaran. Itulah kandungan pesan
fa’fu anhum.
Asbabun-Nuzul dari ayat ini adalah
pada waktu kaum muslimin mendapatkan
kemenangan dalam perang Badar,
banyak orang-orang musyrikin yang
menjadi tawanan perang. Untuk
menyelesaikan masalah itu Rasulullah
SAW mengadakan musyawarah dengan
Abu Bakar Shiddik dan Umar Bin Khattab.
Rasulullah meminta pendapat Abu Bakar
tentang tawanan perang tersebut. Abu
Bakar memberikan pendapatnya, bahwa
tawanan perang itu sebaiknya
dikembalikan keluarganya dengan
membayar tebusan. Hal mana sebagai
bukti bahwa Islam itu lunak, apalagi
kehadirannya baru saja. Kepada Umar
Bin Khattab juga dimintai pendapatnya.
Dia mengemukakan, bahwa tawanan
perang itu dibunuh saja. Yang
diperintahkan membunuh adalah
keluarganya. Hal ini dimaksudkan agar
dibelakang hari mereka tidak berani lagi
menghina dan mencaci Islam. Sebab
bagaimanapun Islam perlu
memperlihatkan kekuatannya di mata
mereka. Dari dua pendapat yang bertolak
belakang ini Rasulullah SAW sangat
kesulitan untuk mengambil kesimpulan.
Akhirnya Allah SWT menurunkan ayat ini
yang menegaskan agar Rasulullah SAW
berbuat lemah lembut. Kalau berkeras
hati mereka tidak akan menarik simpati
sehingga mereka akan lari dari ajaran
Islam. Alhasil ayat ini diturunkan sebagai
dukungan atas pendapat Abu Bakar
Shiddik. Di sisi lain memberi peringatan
kepada Umar Bin Khattab. Apabila dalam
permusyawahan pendapatnya tidak
diterima hendaklah bertawakkallah
kepada Allah SWT. Sebab Allah sangat
mencintai orang-orang yang bertawakkal.
Dengan turunnya ayat ini maka tawanan
perang itupun dilepaskan sebagaimana
saran Abu Bakar.[5]
Rasulullah juga bermusyawarah
dengan para sahabatnya pada waktu
menghadapi perang Badar dengan
menawarkan idenya untuk menghadang
kafilah Musyrikin Quraisy yang kembali
dari Syam ide tersebut dan disepakati
oleh para sahabat dengan kata-kata yang
meyakinkan. Mereka berkata “Ya
Rasulullah, sekiranya engkau mengajak
kami berjalan menyebrangi lautan ini,
tentu kami akan kami lakukan dan sekali-
kali tidaklah kami akan bersikap seperti
Kaum Musa yang berkata kepada
Nabinya, pergilah engkau bersama
Tuhanmu berperang, sedang kami akan
tetap tinggal disini. Dalam masalah
peperangan dan sebagainya yang tidak
ada diturunkan nash tentang hal itu untuk
mengeluarkan pendapat, memperbaiki diri
dan mengangkat kekuasaan mereka.
ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﻗﺪ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﻠﻪ
ﺃﻧﻪ ﻣﺎ ﺑﻪ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺣﺎﺟﺔ, ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺃﺭﺩ ﺃﻥ
ﻳﺴﺘﻦ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ. ﻭﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ )) ﻣﺎ ﺗﺸﺎ ﻭﺭ ﻗﻮﻡ ﻗﻂ ﺇﻻ
ﻫﺪﻭﺍ ﻷﺭﺷﺪ ﺃﻣﺮﻫﻢ ((
Hadis yang diriwayatkan dari hasan
semoga redha Allah darinya: Allah
sungguh mengetahui apa yang mereka
butuhkan dan tetapi yang ia inginkan
enam puluh orang. Dan dari Nabi saw:
(suatu kaum memadai dalam
bernusyawarah tetang sesuatu kecuali
mereka ditunjuki jalan yang lurus untuk
urusan mereka). [6]
Kami akan berkata Ya Rasulullah,
“Pergilah dan kami akan menyertaimu,
berada didepanmu, disisi kanan kirimu
berjuang dan bertempur bersamamu.” [7]
Hal itu mengingat, bahwa didalam
musyawarah, silang pendapat selalu
terbuka, apalagi jika orang-orang yang
terlibat terdiri dari banyak orang. Oleh
sebab itulah, Allah memerintah Nabi agar
menetapkan peraturan itu, dan
mempraktekkannya dengan cara yang
baik. Nabi saw. , manakala
bermusyawarah dengan para sahabatnya
senantiasa bersikap tenang dan hati-hati.
Beliau memperhatikan setiap pendapat,
kemudian mentarjihkan suatu pendapat
dengan pendapat lain yang lebih banyak
maslahatnya dan faedahnya bagi
kepentingan kamu Muslimin, dengan
segala kemampuan yang ada.
Sebab, jamaah itu jauh kemungkinan
dari kesalahan dibandingkan pendapat
perseorangan dalam berbagai banyak
kondisi. Bahaya yang timbul sebagai
akibat dari penyerahan masalah umat
terhadap pendapat perorangan,
bagaimanapun kebenaran pendapat itu,
akibatnya akan lebih berbahaya
dibandingkan menyerahkan urusan
mereka kepada pendapat umum.
Memang Nabi saw. selalu berpegang
pada musyawarah selama hidupnya
dalam menghadapi semua persoalan.
Beliau selalu bermusyawarah dengan
mayoritas kaum Muslimin, yang dalam
hal ini beliau khususkan dengan kalangan
ahlu ‘r-ru’yi dan kedudukan dalam
menghadapi perkara-perkara yang
apabila tersiar akan membahayakan
umatnya.
Beliau juga melakukan musyawarah
pada waktu pecah perang Badar, setelah
diketahui bahwa orang-orang Quraisy
telah keluar dari Mekkah untuk berperang.
Nabi, pada waktu itu tidak menetapkan
suatu keputusan sebelum kaum Muhajirin
dan Anshar menjelaskan isi persetujuan
mereka. Juga musyawarah yang pernah
beliau lakukan sewaktu menghadapi
perang Uhud.
Demikianlah, Nabi saw. selalu
bermusyawarah dengan para sahabatnya
dalam menghadapi masalah-masalah
penting, selagi tidak ada wahyu mengenai
hal itu. Sebab, jika ternyata jika Allah
menurunkan wahyu, wajiblah Rasulullah
melaksanakan perintah Allah yang
terkandung dalam wahyu itu. Nabi saw.
tidak mencanangkan kaidah-kaidah
dalam bermusyawarah. Karena bentuk
musyawah itu berbeda-beda sesuai
denga sikon masyarakat, serta sesuai
dengan perkembangan zaman dan
tempat. Sebab, seandainya Nabi
mencanangkan kaidah-kaidah
musyawarah, maka pasti hal itu akan
diambil sebagai Dien oleh kaum Muslimin,
dan mereka berupaya untuk
mengamalkannya pada segala zaman
dan tempat.
Oleh karena itulah, ketika Abi Bakar
diangkat menjadi khalifah, para sahabat
mengatakan bahwa Rasulullah saw.
sendiri rela sahabat Abu Bakar menjadi
pemimpin agama kami, yaitu tatkala
beliau sakit beliau sakit dan
memerintahkan Abu Bakar mengimani
shalat. Lalu mengapa kita tidak rela
padanya dalam urusan duniawi kita.
3. Surat At-Thalaq ayat 6:
ﺃَﺳْﻜِﻨُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﺳَﻜَﻨْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ
ﻭُﺟْﺪِﻛُﻢْ ﻭَﻻ ﺗُﻀَﺎﺭُّﻭﻫُﻦَّ ﻟِﺘُﻀَﻴِّﻘُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ
ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻦَّ ﺃُﻭﻻﺕِ ﺣَﻤْﻞٍ ﻓَﺄَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻀَﻌْﻦَ ﺣَﻤْﻠَﻬُﻦَّ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭْﺿَﻌْﻦَ ﻟَﻜُﻢْ
ﻓَﺂﺗُﻮﻫُﻦَّ ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻦَّ ﻭَﺃْﺗَﻤِﺮُﻭﺍ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ
ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻌَﺎﺳَﺮْﺗُﻢْ ﻓَﺴَﺘُﺮْﺿِﻊُ ﻟَﻪُ
ﺃُﺧْﺮَﻯ ) ﺍﻟﻄﻼﻕ : ٦(
Artinya: “Tempatkanlah mereka para istri dimana
kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu
menyusahkan mereka untuk
menyempitkan hati mereka. Dan mereka
istri-istri yang sudah ditalak itu sedang
hamil, maka berikanlah kepada mereka
nafkahnya hingga mereka bersalin,
kemudian jika mereka menyusukan anak-
anakmu untukmu maka berikanlah
kepada mereka upahnya, dan
bermusyawarahlah di antara kamu
segala sesuatu dengan baik dan jika
kamu menemui kesulitan, maka
perempuan lain boleh menyusukan anak
itu untuknya.” (QS. At-Thalaq: 6)
4. Surat Al-Syura ayat 38:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻗَﺎﻣُﻮﺍ
ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ﺷُﻮﺭَﻯ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ
ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ )ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ :
٣٨(
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima
(mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara
mereka; dan mereka menafkahkan
sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini turun sebagai pujian
kepada kelompok Muslim Madinah
( Anshar) yang bersedia membela Nabi
Saw. Dan menyepakati hal tersebut
melalui musyawarah yang mereka
laksanakan dirumah Abu Ayyub Al-
Anshari. Namun demikian, ayat ini juga
berlaku umum, mencakup setiap
kelompok yang melakukan musyawarah.
Kata ( ﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ) amruhum/
urusan mereka menunjukkan bahwa yang
mereka musyawarahkan adalah hal-hal
yang berkaitan dengan mereka serta yang
berada dalam wewenang mereka. Karena
itu masalah ibadah mah dhah/ murni
yang sepenuhnya berada dalam
wewenang Allah tidaklah termasuk hal-
hal yang dapat dimusyawarahkan. Di sisi
lain, mereka yang tidak berwenang dalam
urusan yang dimaksud, tidaklah perlu
terlibat dalam musyawarah itu, kecuali
jika di ajak oleh yang berwewenang,
karena boleh jadi yang mereka
musyawarahkan adalah persoalan
rahasia antar mereka. Al-Maraghi
mengatakan apabila mereka berkumpul
mereka mengadakan musyawarah untuk
memeranginya dan membersihkan
sehingga tidak ada lagi peperangan dan
sebagainya. Ibnu Katsir menjelaskan
bahwa mereka bermusyawarah didalam
mengambil suatu keputusan untuk
mereka ikuti pendapat itu, contohnya
dalam peperangan. [8]
Al-Qur’an tidak mejelaskan
bagaimana bentuk Syûrâ yang
dianjurkannya. Ini untuk memberikan
kesempatan kepada setiap masyarakat
menyusun bentuk Syûrâ yang mereka
inginkan sesuai dengan perkembangan
dan ciri masyarakat masing-masing.
Perlu diingat bahwa ayat ini pada periode
dimana belum lagi terbentuk masyarakat
Islam yang memiliki kekuasaan politik,
atau dengan kata lain sebelum
terbentuknya negara Madinah di bawah
pimpinan Rasul SAW. Turunnya ayat yang
menguraikan Syûrâ pada periode Mekkah,
menunjukkan bahwa musyawarah adalah
anjuran al-Qur’an dalam segala waktu
dan berbagai persoalan yang belum
ditemukan petunjuk Allah di dalamnya.
C. Musyawarah dalam Islam dan
faedah-faedahnya
Musyawarah, mengandung banyak
sekali manfaatnya. Diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Melalui musyawarah, dapat diketahui
kadar akal, pemahaman, kadar
kecintaan, dan keikhlasan terhadap
kemaslahatan umum
2. Kemampuan akal manusia itu
bertingkat-tingkat, dan jalan berfikirnya
pun berbeda-beda. Sebab, kemungkinan
ada diantara mereka mempunyai suatu
kelebihan yang tidak dimiliki orang lain,
para pembesar sekalipun.
3. Semua pendapat didalam musyawarah
diuji kemampuannya. Setelah itu,
dipilihlah pendapat yang lebih baik
4. Di dalam musyawarah, akan tampak
bersatunya hati untuk mensukseskan
suatu upaya dan kesepakatan hati.
Dalam hal itu, memang, sangat
diperlukan untuk suksesnya masalahnya
masalah yang sedang dihadapi. Oleh
sebab itu, berjama’ah disyari’atkan di
dalam shalat-shalat fardhu . Shalat
berjamaah lebih afdhal daripada shalat
sendiri, dengan perbedaan duapuluh tujuh
derajat.
Telah diriwayatkan dalam Al-Hasan r.a.,
bahwa Allah swt. sebenarnya telah
mengetahui bahwa Nabi saw. sendiri
tidak membutuhkan mereka (para
sahabat, dalam masalah ini). Tetapi,
beliau bermaksud membuat suatu sunnah
untuk orang-orang sesudah beliau. [9]
Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa
beliau pernah bersabda:
ﻣﺎ ﺗﺸﺎ ﻭﺭﻗﻮﻡ ﻗﻂ ﺍﻻ ﻫﺪﻭ ﺍﻻﺭﺷﺪ ﺍﻣﺮﻫﻢ
“Tidak satu kaum pun yang selalu
melakukan musyawarah melainkan akan
ditunjukkan jalan paling benar dalam
perkara mereka”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., “aku
belum pernah melihat seseorang
melakukan musyawarah selain Nabi
saw.”
ﻓﺈﺫﺍ ﻋﺰﻣﺖ ﻓﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
Apabila hatimu telah bulat dalam
melakukan sesuatu, setelah hal itu
dimusyawarahkan, serta dipertanggung
jawabkan kebenarannya, maka
bertawakkallah kepada Allah.
Serahkanlah sesuatu kepada-Nya, setelah
mempersiapkan diri dan memiliki sarana
untuk meniti sebab-sebab yang telah
dijadikan Allah swt. untuk bisa
mencapainya, seperti telah disebutkan
didalam suatu hadist:
ﺇﻋﻘﻠﻬﺎ ﻭﺗﻮﻛﻞ
“Pikirkanlahlah masak-masak, kemudian
bertawakkallah (kepada Allah dalam
melaksanakannya).”
Didalam hadits ini, terkandung
isyarat yang menunjukkan wajibnya
melaksanakan tekat apabilah syarat-
syaratnya telah terpenuhi. Dan
diantaranya melalui musyawarah.
Rahasia yang terkandung dalam hal
ini adalah, bahwa meralat hal-hal yang
sudah ditekadkan merupakan kelemahan
jiwa seseorang. Juga sebagai kelemahan
di dalam tabiatnya yang menjadikan yang
bersangkutan itu tidak bisa dipercayai
lagi, perkataan maupun perbuatannya.
Terlebih lagi, jika ia seorang pemimpin
pemerintahan atau panglima perang.
Oleh sebab itu, Nabi saw. tidak
mendengarkan pendapat orang yang
meralat pendapat pertamanya, sewaktu
beliau sedang bermusyawarah mengenai
perang Uhud. Pendapat itu mengatakan,
bahwa kaum Muslimin harus keluar ke
Uhud, begitu mereka talah mengenakan
baju besi. Beliau berpandangan, bahwa
sesudah bulat keputusan suatu
musyawarah, maka tahap selanjutnya
adalah tahap pelaksanaan. Jadi tidak
boleh diralat lagi.
Dengan demikian, berarti Nabi saw
mengajari mereka, bahwa dalam setiap
pekerjaan ada waktunya masing-masing
yang terbata. Dan waktu bermusyawarah
itu, apabila talah selesai, tingallah tahap
pengamalannya. Seorang panglima
(pemimpin), apabila telah bersiap
melaksanakan suatu pekerjaan sebagai
realisasi dari hasil musyawarah, maka
tidak boleh ia mencabut keputusan atau
tekadnya, sekalipun ia melihat adanya
kesalahan pendapat dari orang-orang
yang ikut bermusyawarah, seperti yang
terjadi dalam perang Uhud.
Pada surat Ali ‘Imran ayat 159 dari
segi redaksional ditujukan kepada Nabi
Muhammad Saw. Agar
memusyawarahkan persoalan-persoalan
tertentu dengan sahabat atau anggota
masyarakatnya. Tetapi, yang akan
dijelaskan lebih jauh, ayat ini juga
merupakan petunjuk kepada setiap
Muslim, khususnya kepada setiap
pemimpin, agar bermusyawarah dengan
anggota-anggotanya.
Juga dalam ayat itu dijelaskan sikap
apa yang harus dilakukan ketika
bermusyawarah yaitu:
1. Sikap lemah lembut
Seorang yang melakukan musyawarah,
apalagi sebagai pemimpin, harus
menghindari tutur kata yang kasar serta
sikap keras kepala, karena jika tidak,
mitra musywarah akan bertebaran pergi.
ﻟﻮ ﻛﻨﺖ ﻓﻈﺎ ﻏﻠﻴﻆ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻻﻧﻔﻀﻮ ﻣﻦ
ﺣﻮﻟﻚ
Seandainya engkau bersikap kasar dan
berhati keras, niscaya mereka akan
menjauhkan diri dari sekelilingmu.
2. Memberi dan membuka lembaran baru
bagi anggota musyawarah.
D. Musyawarah Dalam Al-Qur’an
Berbagai masalah yang dibahas
oleh para ulama mengenai musyawarah
antara lain:
1. Orang yang diminta bermusyawarah
Secara tegas dapat dipahami
bahwa perintah musyawarah yang ada
pada surat Ali Imran ayat 159 ditujukan
kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini
sesuai dengan redaksi perintah
musyawarah ditujukan kepada semua
orang. Bila Nabi Saw. Saja diperintahkan
oleh al-Qur’an untuk bermusyawarah,
padahal beliau orang yang ma’sum
(terpelihara dari dosa atau kesalahan),
apalagi manusia-manusia selain beliau.
Tanpa analogi di atas, petunjuk ayat ini
tetap dapat dipahami berlaku untuk
semua orang, walaupun redaksinya
tunggal kepada Nabi Saw.
Perintah bermusyawarah pada
ayat di atas turun setelah peristiwa
menyedihkan pada perang Uhud. Ketika
itu, menjelang pertempuran, Nabi
mengumpulkan para sahabat-sahabatnya
untuk memusyawarahkan bagimana
sikap menghadapi musuh yang sedang
dalam perjalanan dari Mekkah ke
Madinah. Nabi cenderung untuk bertahan
di kota Madinah, dan tidk keluar
menghadapi musuh yang datang dari
Mekkah. Sahabat-sahbat beliau terutama
kaum muda yang penuh semangat,
mendesak agar kaum Muslim dibawah
pimpinan Nabi Saw. “keluar” menghadapi
musuh. Pendapat mereka itu memperoleh
dukungan mayoritas, sehingga Nabi Saw.
Menyetujuinya. Tetapi peperangan
berakhir dengan gugurnya tidak kurang
dari tujuh puluh sahabat Nabi Saw.
Konteks turunnya ayat ini, serta
kondisi psikologis yang dialami Nabi Saw.
dan sahabat beliau setelah turunnya ayat
ini, amat perlu digarisbawahi untuk
melihat bagaimana pandangan al-Qur’an
tentang musyarah.
Ayat ini seakan-akan berpesan
kepada Nabi Saw. Bahwa musyawarah
harus tetap dipertahankan dan
dilanjutkan, walaupun terbukti pendapat
yang pernah mereka putuskan keliru.
Kesalahan mayoritas lebih dapat
ditoleransikan dan menjadi tanggung
jawabkan bersama, dibanding dengan
kesalahan seseorang meskipun diakui
kejituan pendapatnya sekalipun.
ﻣﺎ ﺧﺎ ﺏ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﺸﺎ ﺭ ﻭﻻ ﻧﺪ ﻡ ﻣﻦ
ﺍﺳﺘﺨﺎ ﺭ
“ Takkan kecewa orang yang
memohon petunjuk kepada Allah tentang
pilihan yang terbaik, dan tidak juga akan
menyesal seseorang yang melakukan
musyawarah.”
2. Dalam hal-hal apa musyawarah
dilaksanakan (lapangan musyawarah)
            kata al-amr pada surat Ali ‘Imran
ayat 159 di atas, ketika memerintahkan
bermusyawarah ( syawirhum fil amr ) yang
diterjemahkan dengan “persoalan atau
urusan tertentu”. Sedangkan ayat Al-
Syura menggunakan kata amruhum yang
terjemahannya adalah urusan mereka.
Kata amr Al-Qur’an ada yang
dinisbahkan kepada Tuhan dan sekaligus
menjadi urusan-Nya semata, sehingga
ada campur tangan manusia pada
urusan tersebut, seperti:
ﻭَﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻗُﻞِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻣِﻦْ
ﺃَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻲ )ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ : ٨٥(
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang ruh.
Katakanlah “Ruh adalah urusan Tuhan-
Ku”. (QS. Al-Isra’: 85)
Ada juga amr yang dinisbahkan
kepada manusia, misalnya bentuk yang
ditujukan kepada orang kedua seperti
dalam surat Al-Kahf ayat 16:
ﻳَﻨْﺸُﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻭَﻳُﻬَﻴِّﺊْ
ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻛُﻢْ ﻣِﺮﻓَﻘًﺎ )ﺍﻟﻜﻬﻒ : ١٦(
Artinya: Tuhanmu akan melimpahkan sebagian
rahmat-Nya kepadamu, dan menyediakan
sesuatu yang berguna bagimu dalam
urusan kamu . (QS. Al-Kahf: 16)
Ada juga kata amr yang tidak
dinisbahkan itu yang berbentuk indefenitif,
sehingga secara umum dapat dikatakan
mencakup segala sesuatu, seperti dalam
surat Al-Baqarah ayat 117:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ
ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : ١١٧(
Artinya: Apabila Dia (Allah) menetapkan sesuatu,
Dia hanya berkata: “jadilah”, maka
jadilah ia . (QS. Al-Baqarah: 117)
Sedangkan yang berbentuk
definitif, maka pengertiannya dapat
mencakup semua hal ataupun hal-hal
tertentu saja. Seperti ada hal-hal yang
khusus urusan Allah. Firman Allah:
ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻷﻣْﺮِ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﻭْ ﻳَﺘُﻮﺏَ
ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﻭْ ﻳُﻌَﺬِّﺑَﻬُﻢْ ﻓَﺈِﻧَّﻬُﻢْ ﻇَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ) ﺍﻝ
ﻋﻤﺮﺍﻥ : ١٢٨(
Artinya: Tak ada sedikitpun campur tanganmu
dalam urusan mereka (itu), apakah Allah
memaafkan mereka atau menyiksa
mereka, karena sesungguhnya mereka
adalah orang-orang yang berlaku aniaya .
(QS. Ali ‘Imran: 128)
Betapapun, dari ayat-ayat Al-
Qur’an, tampak jelas adanya hal-hal yang
merupakan urusan Allah semata sehingga
manusia tidak diperkenankan untuk
mencampurinya, dan ada juga urusan
yang dilimpahkan sepenuhnya kepada
manusia.
            Dari sini dapat disimpulkan bahwa
persoalan-persoalan yang telah ada
petunjuknya dari Tuhan secara tegas dan
jelas, baik lansung maupun melalui Nabi-
Nya, tidak dapat dimusyawarahkan,
seperti tata cara cara beribadah.
Musyawarah hanya dilakukan pada hal-
hal yang belum ditentukan petunjuknya,
serta persoalan-persoaln duniawi, baik
yang petunjuknya bersifat global maupun
tanpa petunjuk dan yang mengalami
perkembangan dan perubahan.
Nabi bermusyawarah dalam hal-
hal yang berkaitan dengan urusan
masyarakat dan negara, seperti
persoalan perang, ekonomi dan sosial.
Bahkan dari sejarah diperoleh informasi
bahwa beliau pun bermusyawarah
(meminta saran dan pendapat) di dalam
beberapa persoalan pribadi dan keluarga.
Salah satu kasus keluarga yang beliau
musyawarahkan adalah kasus fitnah
terhadap istri beliau ‘Aisyah r.a. yang
digosipkan telah menodai kehormatan
rumah tangganya. Ketika gosip tersebut
menyebar, Rasulullah Saw. bertanya
kepada sekian orang sahabat atau
keluarganya.
            Walhasil, kita dapat menyimpulkan
bahwa musyawarah dapat dilakukan
untuk segala masalah yang belum
terdapat petunjuk agama secara jelas dan
pasti, sekaligus yang berkaitan dengan
kehidupan duniawi.
Hal-hal yang berkaitan dengan
kehidupan ukhrawi atau persoalan
ibadah, tidak dapat dimusyawarahkan.
Bagaimana dapat dimusyawarahkan,
sedangkan nalar dan pengalaman
manusia belum sampai kesana.
3. Dengan siapa sebaiknya musyawarah
itu dilakukan
Persoalan yang dimusyawarahkan
barangkali merupakan urusan pribadi,
namun boleh jadi urusan masyarakat
umum. Dalam surat Ali ‘Imran ayat 159
tentang musyawarah di atas, Nabi SAW.
diperintahkan bernusyawarah dengan
“mereka”. Mereka siapa? Tentu saja
mereka yang dipimpin oleh Nabi Saw,
yakni yang disebut dengan umat atau
anggota masyarakat.
Sedangkan ayat yang lain menyatakan:
ﻭَﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ﺷُﻮﺭَﻯ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ
Artinya: Persoalan mereka dimusyawarahkan antar
mereka. (QS. Al-Syura: 38)
Ayat-ayat musyawarah yang
dikutip di atas tidak menetapkan sifat-
sifat mereka yang diajak bermusyawarah,
tidak juga jumlahnya. Namun demikian,
dari As-Sunnah dan pandangan ulama,
diperoleh informasi tentang sifat-sifat
umum yang hendak dimiliki oleh yang
diajak bermusyawarah. Satu dari sekian
riwayat menyatakan bahwa Rasul Saw.
pernah berpesan kepada Imam Ali bin Abi
Thalib sebagai berkut:
ﻳﺎ ﻋﻠﻲ ﻻ ﺗﺸﺎ ﻭﺭﻥ ﺟﺒﺎ ﻧﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻀﻴﻒ
ﻋﻠﻴﻚ ﺍﻟﻤﺨﺮﺝ ﻭﻻ ﺗﺸﺎ ﻭﺭﻥ ﺍﻟﺒﺨﻴﻞ
ﻓﺈﻧﻪ ﺑﻘﺼﺮﺑﻚ ﻋﻦ ﻏﺎ ﻳﺘﻚ ﻭﻻﺗﺸﺎ ﻭﺭﻥ
ﺣﺮﻳﺼﺎ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺰﻳﻦ ﻟﻚ ﺷﺮﻫﺎ . ﻭﺍﻋﻠﻢ ﻳﺎ
ﻋﻠﻲ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﺒﻦ ﻭﺍﻟﺒﺨﻞ ﻭﺍﻟﺤﺮﺹ
ﻏﺮﻳﺰﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﻳﺠﻤﻌﻬﺎ ﺳﻮﺀ ﺍﻟﻈﻦ
ﺑﺎﺍﻟﻠﻪ
Wahai Ali, jangan bermusyawarah
dengan penakut, karena dia menyempit
jalan keluar. Jangan juga dengan yang
kikir, karena dia menghambat engkau dari
tujuan. Juga tidak dengan yang
berambisi, karena ia akan memperindah
untukmu keburukan sesuatu. Katahuilah
wahai Ali, bahwa takut, kikir, dan ambisi,
merupakan bawaan yang sama,
kesemuanya bermuara pada prasangka
buruk terhadap Allah.
Dalam konteks memusyawarahkan
persoalan-persoalan masyarakat, praktik
yang dilakukan Nabi Saw. cukup
beragam. Terkadang beliau memilih
orang tertentu yang dianggap cakap
untuk bidang yang dimusyawarahkan,
terkadang juga melibatkan pemuka-
pemuka masyarakat, bahkan
menanyakan kepada semua orang yang
terlibat di dalam masalah yang dihadapi.
Dengan demikian dapat
disimpulkan, bahwa musyawarah
diperintahkan oleh al-Qur’an, serta dinilai
sebagai salah satu prinsip hukum dan
politik untuk umat Islam.
Namun demikian, al-Qur’an tidak
merinci atau meletakkan pola dan bentuk
musyawarah tertentu. Paling tidak, yang
dapat disimpulkan dari teks-teks al-
Qur’an hanyalah bahwa islam menuntut
adanya keterlibatan masyarakat didalam
urusan yang berkaitan dengan mereka.
Perincian keterlibatan, pola dan caranya
diserahkan kepada masing-masing
masyarakat, karena satu masyarakat
dapat berbeda dengan masyarakat lain.
Bahkan masyarakat tetentu dapat
mempunyai pandangan berbeda dari
suatu masa kemasa lain.
Sikap al-Qur’an seperti itu
memberikan kesempatan kepada setiap
masyarakat untuk menyesuaikan sistem
syura -nya dengan kepribadian,
kebudayaan dan kondisi sosialnya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
A. Pengertian Musyawarah
Kata ) ﺷﻮﺭﻯ ( Syûrâ terambil dari
kata ( ﺷﺎﻭﺭﺓ- ﻣﺸﺎﻭﺭﺓ - ﺇﺳﺘﺸﺎﻭﺭﺓ )
menjadi ) ﺷﻮﺭﻯ ( Syûrâ. Kata Syûrâ
bermakna mengambi dan mengeluarkan
pendapat yang terbaik dengan
menghadapkan satu pendapat dengan
pendapat yang lain.
Sedangkan menurut istilah fiqh
adalah meminta pendapat orang lain atau
umat mengenai suatu urusan. Kata
musyawarah juga umum diartikan
dengan perundingan atau tukar pikiran.
Perundingan itu jua disebut musyawarah,
karena masing-masing orang yang
berunding dimintai atau diharapkan
mengeluarkan atau mengemukakan
pendapatnya tentang suatu masalah yang
di bicarakan dalam perundingan itu.
A. Ayat-ayat Tentang Musyawarah
1. Surat Al-Baqarah ayat 233:
ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭَﺍﺩَﺍ ﻓِﺼَﺎﻻ ﻋَﻦْ ﺗَﺮَﺍﺽٍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ
ﻭَﺗَﺸَﺎﻭُﺭٍ ﻓَﻼ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ:
٢٣٣ (
Artinya: “Apabila keduanya (suami istri) ingin
menyapih anak mereka (sebelum dua
tahun) atas dasar kerelaan dan
permusyawarahan antara mereka. Maka
tidak ada dosa atas keduanya”. (QS. Al-
Baqarah: 233)
2. Surat Ali ‘Imran ayat 159:
ﻓَﺒِﻤَﺎ ﺭَﺣْﻤَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻨْﺖَ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖَ
ﻓَﻈًّﺎ ﻏَﻠِﻴﻆَ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐِ ﻻﻧْﻔَﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺣَﻮْﻟِﻚَ
ﻓَﺎﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻬُﻢْ ﻭَﺷَﺎﻭِﺭْﻫُﻢْ
ﻓِﻲ ﺍﻷﻣْﺮِ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻋَﺰَﻣْﺖَ ﻓَﺘَﻮَﻛَّﻞْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﺘَﻮَﻛِّﻠِﻴﻦَ ) ﺍﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ:
١٥٩ (
Artinya: “ Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkau
bersikap lemah lembut terhadap mereka.
Seandainya engkau bersikap kasar dan
berhati keras. Niscaya mereka akan
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena
itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan tertentu. Kemudian apabila
engkau telah membulatkan tekad,
bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang bertawakkal kepada-Nya ”.
(QS. Ali ‘Imran: 159)
3. Surat At-Thalaq ayat 6:
ﺃَﺳْﻜِﻨُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﺳَﻜَﻨْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ
ﻭُﺟْﺪِﻛُﻢْ ﻭَﻻ ﺗُﻀَﺎﺭُّﻭﻫُﻦَّ ﻟِﺘُﻀَﻴِّﻘُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ
ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻦَّ ﺃُﻭﻻﺕِ ﺣَﻤْﻞٍ ﻓَﺄَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ
ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻀَﻌْﻦَ ﺣَﻤْﻠَﻬُﻦَّ ﻓَﺈِﻥْ ﺃَﺭْﺿَﻌْﻦَ ﻟَﻜُﻢْ
ﻓَﺂﺗُﻮﻫُﻦَّ ﺃُﺟُﻮﺭَﻫُﻦَّ ﻭَﺃْﺗَﻤِﺮُﻭﺍ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ
ﺑِﻤَﻌْﺮُﻭﻑٍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻌَﺎﺳَﺮْﺗُﻢْ ﻓَﺴَﺘُﺮْﺿِﻊُ ﻟَﻪُ
ﺃُﺧْﺮَﻯ ) ﺍﻟﻄﻼﻕ : ٦(
Artinya: “Tempatkanlah mereka para istri dimana
kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu
menyusahkan mereka untuk
menyempitkan hati mereka. Dan mereka
istri-istri yang sudah ditalak itu sedang
hamil, maka berikanlah kepada mereka
nafkahnya hingga mereka bersalin,
kemudian jika mereka menyusukan anak-
anakmu untukmu maka berikanlah
kepada mereka upahnya, dan
bermusyawarahlah di antara kamu
segala sesuatu dengan baik dan jika
kamu menemui kesulitan, maka
perempuan lain boleh menyusukan anak
itu untuknya.” (QS. At-Thalaq: 6)
4. Surat Al-Syura ayat 38:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺳْﺘَﺠَﺎﺑُﻮﺍ ﻟِﺮَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﺃَﻗَﺎﻣُﻮﺍ
ﺍﻟﺼَّﻼﺓَ ﻭَﺃَﻣْﺮُﻫُﻢْ ﺷُﻮﺭَﻯ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ
ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ )ﺍﻟﺸﻮﺭﻯ :
٣٨(
Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima
(mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarah antara
mereka; dan mereka menafkahkan
sebagian dari rezki yang Kami berikan
kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)
B. Musyawarah dalam Islam dan faedah-faedahnya
Musyawarah, mengandung banyak sekali
manfaatnya. Diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Melalui musyawarah, dapat diketahui
kadar akal, pemahaman, kadar
kecintaan, dan keikhlasan terhadap
kemaslahatan umum
2. Kemampuan akal manusia itu bertingkat-
tingkat, dan jalan berfikirnya pun
berbeda-beda. Sebab, kemungkinan ada
diantara mereka mempunyai suatu
kelebihan yang tidak dimiliki orang lain,
para pembesar sekalipun.
3. Semua pendapat didalam musyawarah
diuji kemampuannya. Setelah itu,
dipilihlah pendapat yang lebih baik. Di
dalam musyawarah, akan tampak
bersatunya hati untuk mensukseskan
suatu upaya dan kesepakatan hati.
Dalam hal itu, memang, sangat
diperlukan untuk suksesnya masalahnya
masalah yang sedang dihadapi. Oleh
sebab itu, berjama’ah disyari’atkan di
dalam shalat-shalat fardhu.
D. Musyawarah Dalam Al-Qur’an
1. Orang yang diminta
bermusyawarah
Secara tegas dapat dipahami
bahwa perintah musyawarah yang ada
pada surat Ali Imran ayat 159 ditujukan
kepada Nabi Muhammad Saw. Hal ini
sesuai dengan redaksi perintah
musyawarah ditujukan kepada semua
orang. Bila Nabi Saw. Saja diperintahkan
oleh al-Qur’an untuk bermusyawarah,
padahal beliau orang yang ma’sum
(terpelihara dari dosa atau kesalahan),
apalagi manusia-manusia selain beliau.
Tanpa analogi di atas, petunjuk ayat ini
tetap dapat dipahami berlaku untuk
semua orang, walaupun redaksinya
tunggal kepada Nabi Saw.
2. Dalam hal-hal apa musyawarah
dilaksanakan (lapangan musyawarah)
Persoalan-persoalan yang telah
ada petunjuknya dari Tuhan secara tegas
dan jelas, baik lansung maupun melalui
Nabi-Nya, tidak dapat dimusyawarahkan,
seperti tata cara cara beribadah.
Musyawarah hanya dilakukan pada hal-
hal yang belum ditentukan petunjuknya,
serta persoalan-persoaln duniawi, baik
yang petunjuknya bersifat global maupun
tanpa petunjuk dan yang mengalami
perkembangan dan perubahan.
Nabi bermusyawarah dalam hal-
hal yang berkaitan dengan urusan
masyarakat dan negara, seperti
persoalan perang, ekonomi dan sosial.
Bahkan dari sejarah diperoleh informasi
bahwa beliau pun bermusyawarah
(meminta saran dan pendapat) di dalam
beberapa persoalan pribadi dan keluarga.
Walhasil, kita dapat menyimpulkan
bahwa musyawarah dapat dilakukan
untuk segala masalah yang belum
terdapat petunjuk agama secara jelas dan
pasti, sekaligus yang berkaitan dengan
kehidupan duniawi. Hal-hal yang
berkaitan dengan kehidupan ukhrawi atau
persoalan ibadah, tidak dapat
dimusyawarahkan. Bagaimana dapat
dimusyawarahkan, sedangkan nalar dan
pengalaman manusia belum sampai
kesana.
3. Dengan siapa sebaiknya
musyawarah itu dilakukan
Persoalan yang dimusyawarahkan
barangkali merupakan urusan pribadi,
namun boleh jadi urusan masyarakat
umum. Dalam surat Ali ‘Imran ayat 159
tentang musyawarah di atas, Nabi SAW.
diperintahkan bernusyawarah dengan
“mereka”. Mereka siapa? Tentu saja
mereka yang dipimpin oleh Nabi Saw,
yakni yang disebut dengan umat atau
anggota masyarakat. Jadi musyawarah
dapat dilakukan dengan siapapun
asalkan ia mempunyai akal yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa, Tafsir Al-Maraghi,
Semarang: CV. Toha Putra, 1986
Abi Qasim Jaarullah Mahmud bin ‘Umar al-
Zamakhsyariy al-Khawarizmiy, Tafsir al-
Kasyaf Juz I , Beirut: Daarul Fikri, tt
Bahreisy Salim, dan Bahreisy, Said, Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid II ,
Surabaya: Bina Ilmu, 1984
Katsir, Ibnu, Tafsir Al-Qur’an al ’Azim
Jilid IV, Beirut: Daarul Fikri, tt
Khiyad, Yusuf dan Mur’asliy Nadim, , Lisanul ‘Arabil
Mahid , Beirut: Daarul Fikri, tt
Mahali, A. Mudjab, Asbabun Nuzul Studi
Pendalaman Al-Qur’an , Yogyakarta:
Pesantren Al-Mahali, 2002
Nasution,Harun, Ensiklopedi Islam
Indonesia, Jakarta: Djambatan; 1992
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Misbah ,
Jakarta: Lentera Hati; 2002
[1] Harun Nasution, Ensiklopedi
Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan;
1992), h. 705-706
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir
Al-Misbah , (Jakarta: Lentera Hati; 2002),
hal. 512
[3] Yusuf Khiyad dan Nadim
Mur’asliy, Lisanul ‘Arabil Mahid , ( Beirut:
tt), h. 380
[4] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu
Katsir Juz I, (Beirut: Daarul Fikri, tt), hal.
380
[5] A. Mudjab Mahali, Asbabun
Nuzul Studi Pendalaman Al-Qur’an ,
(Yogyakarta: Pesantren Al-Mahali, 2002),
hal. 184.
[6] Abi Qasim Jaarullah
Mahmud bin ‘Umar al-Zamakhsyariy al-
Khawarizmiy, Tafsir al-Kasyaf Juz I
(Beirut: Daarul Fikri, tt), h. 474
[7] Salim Bahreisy dan Said
Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu
Katsir Jilid II , (Surabaya: Bina Ilmu,
1984), hal. 237.
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an
al ’Azim Jilid IV, (Beirut: Daarul Fikri, tt),
hal. 143.
[9] Ahmad Mushthafa Al-
Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Semarang:
CV. Toha Putra, 1986), hal. 196-197
Sebelumnya: Metodologi Penafsiran Al-
Qur'an
Selanjutnya : AYAT-AYAT TENTANG
LARANGAN MEMPERSEKUTUKAN ALLAH

  1. (SYIRIK)